Friday, June 29, 2012

Niat

Ada dua tipe niat ketika memberikan uang kepada pengamen: sebagai apresiasi, atau agar ia cepat pergi.

Fragmen #1
Di atas sebuah bus kota,
Pengamen: Selamat siang Bapak Ibu Mbak Mas Adek sekalian.. jrengg… (dan mengalirlah lagu Galang Rambu Anarki-nya Iwan Fals yang digubah dengan keren sekali)
Penumpang: (berbisik-bisik) (membuka dompet) (mengeluarkan lembaran rupiah tanpa ragu)

Fragmen #2
A dan B sedang makan di sebuah warung kaki lima pinggir jalan,
Pengamen: Halo maaass, werewerewerewrer (nggak jelas lagu apa yang kemudian dinyanyikan). Masnya ganteng deehh… (mulai berkeliling sambil sesekali colek-colek)
A: Punya receh?
B: Nggak, buat apa?
A: Itu (mengedikkan bahu ke arah sang pengamen, tanpa melirik sama sekali). Biar cepet pergi.
B: Hahaha, yaudah sih, nggak usah dikasih.
A: Nggak pergi-pergi dia nanti, serem tau (dengan rona wajah pasi).

Mengamen, murni menjual daya tarik suara dan permainan alat musik, atau eufimisme dari pekerjaan mengemis?


Yogyakarta, 29 Juni 2012
teringat seorang teman yang trauma dicolek-colek ‘pengamen’, hahaha.

Monday, March 19, 2012

[South Celebes] Toraja: Tempat Orang Hidup Berdampingan dengan yang Mati (Part 2)

Part 1: http://ekstasejalanan.blogspot.com/2012/03/south-celebes-toraja-tempat-orang-hidup.html

Saya mengerjap ketika Mbak Eva membuka jendela kecil di hadapan papan tempat tidur kami, membuat seberkas cahaya menerobos masuk, menyilaukan. Melirik jam tangan, sudah jam sembilan! Tak lama, Mbak Marla masuk dan meminta kami menuju alang. Kami mengangguk dan bergegas turun.

Di mata saya yang awam ini, alang terlihat agak mirip tongkonan, hanya saja berukuran lebih kecil dan lebih sederhana. Bagian dalamnya hanya terdiri dari satu bilik tempat menyimpan padi. Dengan model seperti rumah panggung, bilik kecil itu disangga tiang yang tinggi, membuatnya terkesan jangkung. Bagian bawah alang yang terbuka biasanya digunakan untuk menerima tamu. Seperti bale-bale  dalam kebudayaan Betawi, mungkin. Ada empat alang berjejer menghadap tongkonan yang tadi kami tempati. Di salah satu alang tersebut, sudah ada sepiring pisang rebus dan gelas-gelas berisi teh dan kopi yang uapnya masih mengepul.

Sambil menikmati hidangan, kami berbincang santai. Mbak Marla meminta kami sudah siap sekitar pukul setengah 12, karena upacara akan dimulai tepat setelah matahari melewati sumbu tengahnya. Secara umum, upacara di Toraja dibagi menjadi dua jenis, upacara yang berkaitan dengan kelahiran atau syukuran dan upacara yang berkaitan dengan kematian. Upacara syukuran biasanya dilakukan pagi hari, sementara upacara yang berkaitan dengan kematian baru dilakukan setelah matahari tergelincir ke arah barat. Ketentuan itu didasarkan pada filosofi pergerakan matahari dari timur ke barat sebagai representasi kehidupan dan kematian.

Mbak Marla bercerita bahwa upacara yang akan kami hadiri siang ini adalah upacara mengarak jenazah keliling kampung. Pemakamannya sendiri baru akan dilangsungkan beberapa hari kemudian. Di Toraja, upacara kematian, khususnya bagi orang-orang yang mempunyai kedudukan atau pemuka adat, memang bukan hal yang sederhana. Rangkaian acara puncak upacaranya sendiri bisa sampai seminggu, terdiri dari prosesi arak-arakan, penerimaan tamu, penyembelihan kerbau dan babi, sampai pemakaman. Persiapannya bisa memakan waktu jauh lebih lama lagi. Semakin tinggi kedudukan orang tersebut, semakin meriah upacaranya, semakin banyak dan istimewa kerbau yang harus disembelih nantinya.


Arak-arakan

Sedikit kesulitan mendapat angkutan umum, saya dan Mbak Marla terlambat sampai ke lokasi upacara, tongkonan Randan Batu. Arak-arakan jenazah sudah berangkat. Tepat sebelum perasaan kecewa menenggelamkan saya, Mbak Marla menenangkan. Ia berkata bahwa tak lama lagi rombongan arak-arakan akan tiba kembali dan kami bisa mengikuti prosesi berikutnya.

Sekitar lima belas menit berselang, bunyi tabuhan gong membahana di udara. Tak berapa lama, beberapa laki-laki berpakaian hitam berjalan dalam barisan memanjang ke belakang, masing-masing membawa batangan bambu panjang tipis berbendera yang tampaknya berfungsi seperti panji-panji. Di belakang mereka, sumber suara tabuhan tadi muncul: dua orang laki-laki berpakaian senada memikul gong dengan bantuan sebilah bambu. “Kalau pake gong, tandanya orang yang diupacarakan itu kedudukannya tinggi,” tutur Mbak Marla. Pembawa gong tersebut diikuti lagi oleh orang-orang yang membawa panji-panji.

Setelah pembawa gong dan panji-panji, berikutnya adalah kerbau besar yang dipilih sebagai simbol dari puluhan kerbau lain yang nantinya akan dikurbankan. Untuk upacara kematian bangsawan tinggi, jumlah kerbau yang dikurbankan minimal 24 ekor. Selain jumlah, jenis kerbau yang diarak juga dapat menunjukkan status sosial si mati. Yang paling istimewa adalah kerbau belang. Jenisnya yang langka membuat harganya melambung tinggi. “Bisa mencapai 200 juta seekor,” ungkap Mbak Marla datar, membuat saya berdecak. Kerbau kurban itu diikuti oleh serombongan laki-laki berpakaian hitam, salah satunya membawa foto orang yang meninggal. Di belakang mereka, berjalan serombongan perempuan berpakaian hitam atau putih.

Ada jeda beberapa menit sampai akhirnya rombongan utama tiba. Dari kejauhan, sebuah keranda merah beratap serupa tongkonan tampak berkilau tertimpa sinar matahari siang. Keranda itu diusung oleh lebih dari sepuluh laki-laki. Di depan mereka, belasan perempuan berjalan berbanjar menjunjung kain merah panjang. Sorakan ritmis dalam bahasa yang tidak saya pahami dan dentum tumbukan alu bertalu-talu dari lapangan tempat upacara menyambut kedatangan rombongan pengusung keranda tersebut. Berderap pasti, mereka menuju ke tengah lapangan, meletakkan keranda di tanah dengan gerak menyentak. Sorak dan segenap suara serentak berhenti, lalu hening.

(bersambung)








[South Celebes] Toraja: Tempat Orang Hidup Berdampingan dengan yang Mati (Part 1)

Mendengar kata Toraja, apa yang pertama kali terlintas di benak? Legenda mayat berjalan, begitu komentar seorang teman di status saya. Benarkah?

Dari Terminal Daya, Makassar, perjalanan menuju Toraja dapat ditempuh dengan menggunakan bus selama kurang-lebih  delapan jam kalau berangkat malam hari, sedikit lebih lama kalau berangkat pagi hari. Tarif bus bervariasi tergantung fasilitas yang ditawarkan, antara 60.000 - 100.000 rupiah sekali jalan.

Secara administratif, Toraja terbagi menjadi dua kabupaten, Kabupaten Tana Toraja yang berpusat di Makale dan Kabupaten Toraja Utara dengan ibu kota di Rantepao. Meski begitu, secara adat, Tana Toraja dan Toraja Utara tetaplah merupakan satu kesatuan yang terbagi lagi menjadi 32 wilayah adat dan lebih banyak subwilayah adat. Di masing-masing wilayah adat dan subwilayah adat, ada rumah adat yang disebut tongkonan, tempat pemangku adat dan keluarganya tinggal.

Seperti yang sudah saya tulis di catatan sebelumnya, meski nekat, perjalanan ini bukan berarti tanpa persiapan. Sebelum berangkat, saya sempat sedikit bertanya-tanya pada seorang dosen yang pernah beberapa kali ke Toraja. Dosen tersebut kemudian menyebut nama Mbak Marla di tongkonan Buntupune, Toraja Utara. Sayangnya, tidak ada nomor telepon untuk dihubungi sebelumnya. Meski begitu, sang dosen meyakinkan saya bahwa tempat Mbak Marla yang juga merupakan alumni arkeologi Universitas Hasanuddin ini pasti tidak sulit ditemukan. Katakan saja pada kondektur bus untuk diturunkan di jalan menuju Ke’te Kesu, pasti mereka tahu. Buntupune memang terletak tidak jauh dari salah satu objek wisata andalan Toraja itu. Maka, ke sanalah saya menuju.

Menggunakan bus malam, saya tiba di Toraja pukul setengah lima dini hari. Oleh kondektur bus, saya diturunkan di pertigaan patung kerbau. Untuk menuju tongkonan Buntupune, dari sana masih harus berjalan sekitar 500 meter lagi. Bisa juga menggunakan ojek atau becak motor yang memang ngetem di pertigaan tersebut.

Gonggongan anjing sahut-menyahut menyambut begitu saya menginjakkan kaki memasuki area tongkonan. Menatap sekeliling, saya terperangah. Dalam remang siluet subuh, ada enam bangunan yang tampak serupa di halaman tengah. Di belakangnya, ada bangunan lagi berbentuk memanjang. Pintu mana yang harus saya ketuk? Langkah saya semakin surut ketika seekor anjing berlari mendekat sambil terus menyalak ribut. Menenangkan diri dan berlagak seolah yakin, saya melangkah ke arah bangunan memanjang di belakang dan mulai mengetuk pintu. Sekali ketuk, tidak ada jawaban. Dua kali, tiga kali, empat kali ketuk, sama saja. Anjing itu mulai mengitari saya dan mengendus-endus. Saya mulai ketar-ketir, merutuki kenapa saya tidak menghubungi terlebih dahulu. Tapi, mau menghubungi ke mana memangnya? Nyaris putus asa, pada ketukan kelima, terdengar suara seorang wanita menyahut dari dalam. Tak lama, seraut wajah menyembul membukakan pintu. “Mbak Marla?” tanya saya harap-harap cemas. Wanita itu mengangguk dengan ekspresi bingung. Ah syukurlah, Tuhan memang maha baik!

Ditemani kepulan uap tipis dari teh panas yang disuguhkan di dinginnya subuh buta itu, saya dan Mbak Marla berkenalan dan berbincang singkat. Menjelaskan kalau saya adalah mahasiswa arkeologi UGM, dapat nama Mbak Marla di tongkonan Buntupune dari seorang dosen, dan blablabla. “Kamu nanti malam tidur di tongkonan ya, nggak papa kan?” Tawaran Mbak Marla itu serta merta membuat saya melonjak girang. Tentu saja! Belum reda euforia saya membayangkan akan tidur di rumah adat yang eksotis itu, Mbak Marla kembali berbicara. “Oh ya, kebetulan sekali, hari ini ada arak-arakan jenazah upacara kematian pemangku adat desa Randan Batu. Nanti ikut keluarga kami saja.” Saya tidak bisa lebih jungkir-balik lagi. Seperti yang dikatakan seorang teman, belum sempurna rasanya pergi ke Toraja kalau belum menyaksikan upacara kematian. Padahal, tidak setiap saat ada ritual tersebut. Keberuntungan ganda! :D

Selesai menghabiskan penganan yang disuguhkan, Mbak Marla mengantar saya ke tongkonan untuk meletakkan barang bawaan dan beristirahat. Ternyata, enam bangunan yang tadi bagi saya terlihat serupa itu tidak semuanya tongkonan. Ada dua tongkonan berjajar di sebelah timur dan barat, dan empat alang (lumbung padi) yang berukuran lebih kecil di hadapannya. Kami menuju tongkonan yang paling barat. Untuk memasuki bagian utama rumah, kami harus menaiki tangga kayu yang sempit dan curam. Mbak Marla sempat memperingatkan saya untuk menunduk, karena ada palang kayu yang melintang di pertengahan jalan menuju ke atas. Sayangnya terlambat, haha -,-.

Menjejakkan kaki di bagian utama rumah, aroma kayu yang khas menyergap indera penciuman saya. Gelap. Mbak Marla menyalakan lampu tengah yang cahayanya sudah temaram. Perlahan, mata saya mulai mengenali keadaan. Bagian rumah ini terbagi menjadi tiga bilik. Dari ketiganya, hanya bilik paling belakang yang disekat sempurna, itupun dengan dinding kayu yang tidak rapat susunannya. Dua bilik di depannya hanya dipisahkan oleh perbedaan ketinggian lantai dan beberapa tiang. Ada seseorang yang tampaknya tertidur di bilik paling depan. Selain itu, kosong. Tidak ada kamar mandi, dapur, atapun ruangan pelengkap lain yang biasa ada di rumah modern lainnya.

Mbak Marla menggiring saya memasuki bilik paling belakang, melewati pintu seadanya setinggi setengah badan saya. Di sana sudah ada seorang perempuan yang tampaknya terbangun mendengar kedatangan kami. Masih setengah tidur, ia memperkenalkan dirinya sebagai Eva, dosen psikologi Universitas 45 yang sedang mengadakan penelitian di Toraja. Mbak Marla memberi isyarat agar saya beristirahat dulu beberapa jenak, sembari mengingatkan bahwa nanti siang kami akan menghadiri upacara kematian. Saya mengangguk dan merebahkan diri di sebelah Mbak Eva.  Diiringi gonggongan anjing yang terdengar lirih dan semilir angin dari jendela kecil yang tidak bisa ditutup rapat, saya memejamkan mata. Gelitik penasaran yang sudah hampir meledakkan kepala ini tampaknya masih harus bersabar beberapa saat lagi.

(bersambung)

[South Celebes] Gerbang menuju Timur

“Your local time: 09.44, GMT+8.00. Accept update?”

Itu tulisan yang muncul begitu saya menyalakan telepon genggam, sesaat setelah meninggalkan landasan pacu pesawat dan menginjakkan kaki memasuki gedung Bandar Udara Internasional Sultan Hasanuddin, Makassar. Berjarak 8 jam garis waktu imajiner dari meridian di Greenwich sana, satu jam lebih cepat dibanding Yogyakarta, Makassar berada dalam zona Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA). WITA sisi timur, lebih tepatnya.

Mengelilingi Nusantara. Melihat negeri ini tanpa jarak. Melebur dalam masyarakat yang sebenarnya, bukan sekadar bersesakan dalam kerumunan raga bergerak di ibukota. Atas nama pemberontakan sunyi terhadap Jawa-sentrisme yang begitu nyata, Indonesia timur begitu menggoda saya. Dan Makassar adalah jalan menuju ke sana.

Makassar memang dikenal sebagai pintu masuk menuju Indonesia timur. Sejak dulu, ketika orang-orang dari benua seberang tergoda aroma rempah yang menguar dari gugus kepulauan timur Nusantara, Makassar telah menjadi bandar dagang utama. Di masa sekarang, kota ini adalah titik transit yang penting. Semua pesawat dan kapal penumpang dari belahan barat Indonesia harus mendarat dan berlabuh dulu di Makassar, sebelum kemudian melanjutkan perjalanan terus ke timur, seperti ke Ambon atau Sorong. Inilah gerbang yang menghubungkan bagian barat dan timur Indonesia kita.

Meski begitu, jujur saja, Makassar bukan tempat yang menarik bagi saya untuk tinggal. Kota ini tak ubahnya kota-kota besar lain seperti Jakarta, Surabaya, atau Denpasar. Begitu keluar dari bandara, sengatan hawa panas langsung menyergap. Tiba di jalan raya, lajur kendaraan tampak tak beraturan. Motor, mobil pribadi, pete-pete (angkot), becak, bus besar, semua saling berebut tempat paling depan. Pekik klakson bersahut-sahutan memekakkan telinga, membuat pejalan kaki hanya bisa menggerundel dan menghela nafas lelah. Semrawut. Namun bagaimanapun, kota ini adalah gerbang untuk menuju ke timur. Maka, demi mimpi yang selalu mencari celah kesempatan untuk mewujud nyata, sepertinya suatu hari nanti saya akan menjumpai kota ini kembali, eh?


Yogyakarta, 13 Februari 2012
catatan perjalanan Sulawesi Selatan, 29 Januari-2 Februari ‘12

[South Celebes] Pergi Sendiri?

“Dari mana?”
“Dari Jogja.”
“Jogja yang di Jawa itu? Sama siapa ke sini?”
“Sendiri.”
“Hah? Sendiri? Ada keluarga di sini?”
“Nggak ada.”
“Hah? Nggak ada? Sebelumnya udah pernah ke sini?”
“Belum pernah, ini pertama kali.”
“Hah? Baru pertama kali? Bisa sampe sini sendiri? Wah ckckck…”
Hahaha -,-

Lima hari berkelana di sisi selatan Celebes, bukan sekali dua kali percakapan serupa di atas terjadi. Sebenarnya, awalnya saya akan pergi berdua dengan seorang teman. Namun karena satu dan lain hal, sekitar dua atau tiga hari sebelum keberangkatan, teman tersebut tiba-tiba tidak bisa ikut pergi. Padahal, perjalanan ini sudah direncanakan jauh-jauh hari, tiket pulang pergi juga sudah dibeli, sayang sekali kalau sampai batal begitu saja. Maka begitulah, saya pun bertekad tetap pergi meski sendiri.

Menjelang hari keberangkatan, beberapa kali ragu dan khawatir mencoba mengayun bimbang. Kamu ini perempuan lho, beneran mau pergi sendiri? Kamu kan belum pernah ke sana, belum tau medannya seperti apa. Bagaimana kalau nanti ada masalah di sana, di tempat yang kulturnya mungkin tidak sama dengan di Jawa? Mau menginap di mana nanti di sana? Apalagi kamu juga berniat ke Toraja, yang kemungkinan besar sulit mencari makanan halal, mau makan apa di sana nanti? Bagaimana kalau nanti… bagaimana kalau nanti… bagaimana kalau nanti…  dan segala macam bagaimana-kalau-nanti lainnya.

Dipikir-pikir, perjalanan ini memang sepertinya nekat sekali, hahaha. Meski begitu, nekat bukan berarti tanpa persiapan sama sekali. Syukurlah sekarang ada teknologi bernama internet. Berbekal potongan-potongan informasi yang terserak di berbagai laman internet, sedikitnya saya tidak buta sama sekali tentang tempat-tempat yang ingin saya datangi di Sulawesi Selatan. So, life must go on, eh? Berangkat!

Dan begitulah, meski sendiri, saya tidak pernah menyesal bersikeras tetap pergi. Tersasar di Bandara Sultan Hasanuddin. Terpekur di bus Damri. Membelah jalanan Makassar dengan pete-pete. Mengelilingi benteng-benteng kota yang menjadi saksi bahwa kolonial pernah bercokol di sini. Sekali-kalinya terjebak naik bus eksekutif super mewah dengan fasilitas hotspot. Menjejak Toraja yang eksotis, tempat orang hidup berdampingan dengan yang mati. Menyaksikan rangkaian ritual upacara kematian yang meriah. Bersepeda naik-turun bukit. Memanjat tebing menuju tempat Patane tertua. Merangkak tertatih di antara tengkorak dan belulang yang terserak. Menerobos celah sempit gua-gua prasejarah di Maros. Berlari terengah mengejar jam keberangkatan pesawat. Semuanya.

Dan begitulah, meski sendiri, saya tidak pernah merasa sepi. Sepanjang lima hari menjajaki belahan bumi Indonesia tengah sisi timur ini, entah berapa banyak teman baru yang saya dapatkan, entah berapa banyak kemudahan yang datang begitu saja. Kita memang tidak pernah benar-benar sendiri :)


Yogyakarta, 3 Februari 2012
catatan perjalanan Sulawesi Selatan, 29 Januari - 2 Februari '12
warming up

Tuesday, November 22, 2011

Mengawali Ramadhan di Ungaran


“Aku mau sahur pertama di puncak gunung,” cetusku begitu saja tanpa dipikir ketika itu. Aku tak pernah menyangka, ide gila yang terlontar ringan dalam satu sesi obrolan geje itu akhirnya terwujud. Benar apa yang dikatakan Andrea Hirata dalam Edensor, ide-ide sinting memang selalu memiliki dua dimensi: dicemooh atau diikuti orang-orang frustrasi.
                                                      
Bersama empat orang frustrasi yang ‘terhasut’ sugestiku tentang betapa akan keren-sekali-kalau-bisa-sahur-pertama-di-puncak-gunung, kami memilih Gunung Ungaran sebagai tempat untuk melaksanakan ritual tersebut. Pertimbangannya, Gunung Ungaran tidak terlalu tinggi dan medannya tergolong tidak terlalu berat, sehingga yah bisalah kalau nanti kami turun gunung dalam keadaan berpuasa. Rencana kami: sampai di basecamp pendakian menjelang Magrib, shalat Magrib sekaligus menunggu waktu Isya dan menuntaskan shalat Tarawih, sampai puncak sekitar pukul 02.00 dini hari dan sahur di sana, istirahat beberapa jenak, kemudian turun sebelum matahari mulai tinggi dan menyengat terik. Sempurna!

Hanya saja, kenyataan memang kadang tidak sesuai harapan. Sampai di basecamp, kami mendapati kenyataan pahit bahwa tidak ada orang dan bangunan itu dikunci. Saat itu kami baru menyadari satu hal penting: sepertinya memang hanya kami yang nekat mendaki gunung di bulan puasa seperti ini. Maka di sanalah kami, terdampar di tanah rumput yang cukup lapang di samping basecamp. Sembari merapatkan jaket menahan deru angin gunung yang dinginnya menusuk ngilu, kami menghamparkan jas hujan sebagai alas dan menanti waktu shalat dengan gigi bergemeletuk. Dengung suara orang mengaji mulai terdengar dari pengeras suara masjid-masjid di bawah. Menatap pijar lampu-lampu kota yang terlihat jauh seperti bintang warna-warni, rasanya manusia jadi kecil sekali. Seorang teman mencoba menyalakan radio. “Siapa tau ada ceramah on air, biar kerasa udah masuk Ramadhan beneran nih,” ujarnya ambil mengutak-atik frekuensi. Dodolnya, alih-alih ceramah, yang tertangkap dari ketinggian basecamp ini ternyata hanya siaran dangdutan, hahahaha.

Usai Tarawih dan memastikan semuanya oke, kami memulai pendakian. Dua jam perjalanan pertama kami lalui tanpa hambatan berarti. Memasuki paruh kedua, jalur pendakian Ungaran mulai menunjukkan keganasannya. Treknya sempit dan terjal, dipenuhi batu-batu besar dan batang-batang pohon tumbang malang-melintang menghalangi jalan. Ditambah lagi, senter yang kupakai bermasalah sehingga beberapa kali aku harus memanjat bebatuan terjal dalam kegelapan hanya dengan mengandalkan feeling. Demi menyemangati diri sendiri, kami meneriakkan apa yang menjadi tekad kami ke sana, “Ayo nanti kita bikin sandwich buat sahur di puncak!” Kalimat motivasi yang cukup ampuh untuk terus memaksa kami melangkah rupanya, hahaha.

Mendekati pukul setengah tiga dini hari, kami tiba di puncak. Satu kata untuk puncak Ungaran: D.I.N.G.I.N. Hampir mendekati derajat dingin Gunung Sindoro ketika badai, padahal ketinggiannya jauh lebih rendah. Dengan tangan kebas mati rasa kedinginan, aku bersama dua orang teman cowok susah-payah mendirikan tenda. Setelah tenda siap, kami mulai bersiap memasak. Mataku mengerjap berbinar melihat bahan-bahan makanan yang kami bawa: roti, telur, keju, nugget, margarin, mie instan, jelly, jeruk, meses, sosis, energen, susu, kopi. Menggunakan alat masak seadanya –nesting dan kompor gas mini, kami berhasil membuat satu set menu yang sanggup membuat lidah berdecak dan cacing di perut menari-nari tak sabar. Menu utama: sandwich isi telur+nugget+keju+saos dan mie rebus sosis. Dessert: jelly jeruk tabur meses dan energen+susu+cappuccino. Makan besaar~! :D

Ditemani desau angin dan derik hewan malam, kami makan dalam diam. Lidah api yang tadi dinyalakan berbekal sepotong bara menjilat-jilat udara. Gurih telur dan nugget yang digoreng dengan margarin bercampur dengan lapisan keju yang lumer di lidah, nikmat sekali. “Ini sandwich terenak yang pernah kumakan,” lirih seorang teman dengan suara tercekat haru. Kami semua mengangguk sepakat. Segala kenekatan, perjuangan, lelah, frustrasi, keringat, gigil, rasanya terbayar. Ini adalah sahur paling luar biasa sepanjang hidup kami.

Tak berapa lama, samar-sama timbul-tenggelam terdengar suara serupa adzan Subuh nun dari kejauhan di bawah sana. Bertatapan satu sama lain, kami spontan saling mengucap, “Selamat menunaikan ibadah puasa…”
                                                                                                                              
menu sahur

P.s.:
sebenarnya ini catatan lama yang ditulis awal Ramadhan tahun ini, tetapi karena diikutkan ke suatu lomba dulu, jadi baru sekarang bisa di-publish, hehe.

Sunday, October 16, 2011

[12 Hari Menggeje di Bosnia] Identitas: Indonesia!

Terlepas dari ekspresi ngehe saya kalau masih ada orang yang pernah mencecap bangku kuliah tetapi masih bertanya Bosnia itu di mana, tidak bisa dipungkiri, tempat itu memang terbilang jauh dari Indonesia. Bukan hanya jauh secara geografis (berbeda 5 jam zona waktu, sekitar 14 jam penerbangan), tetapi juga jauh secara kultural dan ras, secara identitas.

Berlokasi di belahan timur benua Eropa, mayoritas orang yang menempati negara pecahan Yugoslavia itu adalah ras kaukasid. Bukan bermaksud rasis, tetapi konstruksi tulang wajah saya yang Mongoloid sekali ini jadi tampak mencolok di sana. Setiap saya lewat, orang-orang di jalan dipastikan tidak bisa tidak menengok. Jangankan sesama pejalan kaki, pengendara mobil pun begitu. Saya sampai khawatir akan terjadi kecelakaan gara-gara pengendara mobil tersebut malah memutar kepalanya ke arah saya dibanding melihat jalan, hahaha. Jadi berasa artis :p

Bukan hanya menarik perhatian di jalan, saya juga jadi ‘terkenal’ di motel tempat saya menginap. Setiap kali saya berpapasan atau satu lift dengan entah siapapun ―tamu motel selain tim kami maupun petugas motel, orang itu pasti akan menyempatkan waktu beberapa jenak berhenti mengamati saya dan berujar takjub, “Aah.. You must be Salsa from Indonesia!” Dan saya (lagi-lagi) berasa jadi artis, huahahaha.

Soal kebangsaan, ketika berkenalan pertama kali, tidak ada orang yang langsung menebak bahwa saya orang Indonesia. Mungkin karena Indonesia memang terhitung asing bagi orang-orang di sana. Sebagian besar hanya tahu ada negara bernama Indonesia, tapi tidak tahu negara itu seperti apa, dan ada di belahan bumi mana. Kurang-lebih sama lah seperti kalau menyebut Bosnia di Indonesia. Berkali-kali saya dikira orang Malaysia, bahkan pernah sekali ada yang mengira saya orang India -,-

Ada beberapa kejadian kocak tetapi menohok terkait masalah ke-Indonesia-an ini. Saat sedang berbincang dengan beberapa orang di tim, tiba-tiba ada seseorang yang nyeletuk, “Oh yeah, have you ever met Thea? She had just traveled to Maluku. Is it far from Indonesia?” Pertanyaan ringan itu mau tak mau membuat saya terhenyak. Eh? Maluku kan bagian dari Indonesia :|

Kali lain, saya bertemu dengan serombongan pemuda dari London yang mengisi liburan musim panasnya kali ini dengan bersepeda keliling Eropa, dan sekarang sedang sampai di Bosnia. Ketika saya menjawab bahwa saya dari Indonesia, mereka menanggapi dengan sangat bersemangat dan wajah berbinar-binar, “Ah, so you are from Indonesia? I like Gamelan, you know? It sounds great! Can you play it?” Dan saya cuma bisa cengar-cengir geje ―karena pada kenyataannya saya nggak bisa main gamelan. Jadi malu setengah hidup >,<

Salah satu great moment saya selama 12 hari di Bosnia adalah ketika berkunjung ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Sarajevo. Mendengar lagi bahasa ibu saya dalam percakapan setelah berhari-hari berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan mendengar geremengan berbagai bahasa asing lainnya membuat saya merasa pulang. Bertemu dengan orang-orang KBRI yang ramah dan menyambut dengan antusias, rasanya seperti mendapat keluarga baru. Berkat mereka, saya bisa kembali ke Indonesia tepat waktu dan tidak tertahan di bandara Sarajevo. Kalau sebelumnya tidak berkunjung ke KBRI, saya tidak bisa membayangkan akan seperti apa panik dan kalutnya saya saat itu. Saya masih ingat betul apa yang dikatakan salah satu staf KBRI ketika menelepon saya di ruang tunggu bandara, “Yang penting kamu sampai Indonesia dengan selamat. Masalah yang di sini, biar KBRI yang ngurus. Santai aja, sesama orang Indonesia kan keluarga.” :’)

Begitulah. Di negeri asing yang berjarak ribuan kilometer jauhnya ini, saya justru baru menyadari berbagai hal soal ke-Indonesia-an saya :)


P.s:
Maafkan saya yang dengan tidak tahu dirinya baru melanjutkan catatan ini setelah lewat berbulan-bulan lamanya *melirik tanggal saya membuat prolognya -,-. Semoga fragmen-fragmen berikutnya soal petualangan geje saya di Bosnia tidak tersendat selama ini lagi, haha.
Special thanks untuk orang-orang di KBRI yang benar-benar banyak membantu saya selama di sana. Terima kasih untuk Mbak Retno, yang menemani saya muter-muter dan mentraktir berbagai macam penganan khas sana, juga memberi saya tumpangan menginap dan memasakkan gulai ayam yang enaaak~ hehe :D
Untuk teman-teman yang akan atau ingin ke luar negeri, sempatkanlah waktu untuk berkunjung ke KBRI di sana. Trust me, it worths!

Yogyakarta, 15 Oktober 2011

Di sana ada Masjid Istiqlal Indonesia lho~

Dzamija Istiklal - Indonezanska Dzamija

Monday, August 8, 2011

[12 Hari Menggeje di Bosnia] Prologue: Going Out of My Comfort Zone

Kata Bu Muslimah seperti yang dikenang Andrea Hirata dalam Edensor, “Kalau ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak membaca Al-Quran, dan berkelana.”

Aku sepenuhnya sepakat dengan perkataan itu. Sekolah dan membaca Al-Quran, tentu saja. Seperti yang disebut pula oleh Ikal, karena pada kedua hal tersebut terdapat saripati ilmu. Namun, mengapa berkelana? Menurutku, karena berkelana memaksa manusia meninggalkan zona nyaman mereka.

12 hari di Bosnia, aku benar-benar keluar dari zona nyamanku. Sebolang-bolangnya aku, itu pertama kalinya aku pergi sejauh itu, sendirian. Bukan ke negara yang biasa didatangi warga negara Indonesia pada umumnya pula. Rasanya seperti memasuki belantara antah-berantah. Menggoda, menggelitik adrenalin gairah akan tantangan, membangkitkan debar dan tegang.

12 hari di Bosnia, aku merangkak lepas dari lingkaran budaya yang selama ini melingkupiku nyaman. Di sana, aku bertemu orang-orang dengan karakter, kebiasaan, dan pemikiran yang sama sekali berbeda. Melintasi benua dan samudera, segalanya terasa asing dan tak biasa. Mulai dari hal sepele seperti makanan dan toilet, sampai hal-hal yang bersifat prinsip seperti keyakinan dan identitas.

12 hari di Bosnia, aku tertatih meninggalkan jaring-jaring bahasa yang selama ini dengan nyaman kugunakan. Orang-orang di sana berbicara dengan bahasa yang tidak kupahami, dan aku berbicara dengan bahasa yang tidak mereka pahami. Jangankan bahasa Indonesia, sebagian besar penduduk di sana bahkan tidak bisa bahasa Inggris. Maka bayangkanlah, bagaimana tidak tambah nyasar, ketika aku bertanya di mana ‘railway station or bus station’ dan mereka tidak mengerti apa yang kutanyakan, hahaha.

12 hari di Bosnia, aku terseok dari kenyamanan menjadi mayoritas. Aku jadi mengerti mengapa ikatan di antara orang-orang dalam golongan yang sedikit bisa menjelma begitu kuat. Berada di posisi minor, seseorang cenderung mencari dan kembali pada akar kekerabatan terdekatnya. Sekadar tahu bahwa  masih ada segelintir yang 'sama' di tengah tekanan dominansi yang berbeda, rasanya bertahan dan tegar jadi lebih mudah.

Ada pepatah, ‘seenak-enaknya hujan emas di negeri orang, masih lebih baik hujan batu di negeri sendiri’. Dulu aku seringkali berpikir: ah, bodoh sekali pepatah itu, untuk apa bertahan dalam hujan batu kalau bisa mendapatkan hujan emas. Sekarang, setelah merasakan seperti apa rasanya hidup sendiri di negeri orang meski hanya sebentar, aku baru bisa memahami mengapa si pembuat pepatah mengatakan seperti itu. 12 hari di luar sana membuatku menyadari, ternyata aku mencintai tanah air ini, mencintai segala hal berharga yang ada di sini.



P.s:
Tulisan ini adalah prolog dari serangkaian catatan berikutnya tentang 12 hari petualangan gejeku di negeri orang, 11-22 Juli lalu. Sedikit merasa bersalah, baru sok-sempat menulis setelah lewat hampir sebulan begini. Semoga ‘niat baik’ untuk merampungkan keseluruhan cerita ini tidak tersendat di tengah jalan, haha.



Yogyakarta, 8 Agustus 2011
14.58 WIB

Saturday, April 23, 2011

Menghargai Proses

Kau sudah berjalan sebegitu jauh, menempuh medan sebegitu berat, mati-matian, berpeluh, berjuang, lelah, terjungkal, bangkit lagi, terjatuh, mengaduh, tapi masih tetap bertahan melaju. Lantas, tinggal selangkah lagi sebelum mencapai tujuan, kau harus mundur. Seperti apa rasanya?

Dulu, kupikir, rasanya pasti akan seperti menelan pil pahit tanpa air. Menyesakkan.

*****

“Aku tunggu di sini atau ikut orang-orang yang turun aja.”
Mendengar kalimat terputus-putus pelan itu, aku tercekat. Menengadah, memicingkan mata mencoba menerka puncak. Seratus meter lagi, sayang.

“Jadi gimana, Mbak’e?”
Aku mengalihkan pandangan ke atas, beberapa teman lain berhenti berselang cukup jauh di depan, menanti. Aku berbalik, menatap kembali wajahnya yang meringis. Menghela nafas, menguatkan hati.
“Naik bareng, turun bareng. Tolong panggil yang lain, kita turun.”

*****

Dulu, kupikir, hal seperti itu akan terasa sangat menyakitkan. Tapi hey, ternyata tidak juga.

Sepanjang perjalanan turun, aku memikirkan banyak hal. Apa ini keputusan yang tepat? Atau seharusnya tadi biarkan saja yang lain naik? Tapi, akan seperti apa pula rasanya meninggalkan yang sakit sementara kami ‘bersenang-senang’ sendiri?

“Sunset!” Seruan takjub itu seketika membuyarkan solilokui-ku. Menatap langit jingga kemerahan, segenap perbendaharaan kata yang kupunya seolah menguap. Panorama matahari terbenam di balik tebing karang itu benar-benar menakjubkan. Cantik sekali.

Ah, seketika hatiku terasa lapang. Dengan keindahan seperti ini, dengan perjalanan semenakjubkan ini, se’gila’ ini, –mulai dari ‘diusir’ di basecamp Slamet sampai akhirnya ‘terdampar’ di Sumbing bersama orang-orang geje-, maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan? Maka ketika kita telah begitu berjuang, apalagi yang perlu disesali?

Menghargai proses, bukan sekadar terobsesi pada hasil. Sepertinya itu pelajaran paling telak yang kudapat di pendakian kali ini. Sebenarnya, ketika mendaki gunung, apa yang kau cari? Puncaknya kah? Atau keping-keping pengalaman berharga yang terserak di sepanjang perjalanan naik dan turunnya?

“…bahwa mendaki gunung sesungguhnya bukanlah untuk menaklukkan puncaknya, tetapi untuk menaklukkan diri kita sendiri, agar jangan menyerah oleh hati yang lemah, tekad yang setengah-setengah, dan mimpi yang tak tentu arah.” -5 cm-


P.s.:
mengenang momen-momen geje-tapi-menakjubkan dari basecamp Slamet sampai (hampir) puncak Sumbing, 15-18 April 2011




Wednesday, February 9, 2011

Turun

"Ini nanti turunnya gimana ya?"

Itu yang selalu ada dalam pikiran saya setiap kali naik gunung. Bebatuan terjal, tanah miring licin, akar-akaran yang melintang menjegal. Naik memang melelahkan dan membuat nafas tersengal. Tapi entah kenapa, turun selalu lebih sakit dan mengerikan. Bahkan sekadar membayangkan atau memikirkannya.

Hidup pun, rasanya seperti itu. Naik, menuju target yang lebih tinggi, memang melelahkan.  Banyak rintangannya, mulai dari faktor internal (baca: mental, keragu-raguan), orang-orang di sekitar, lingkungan yang rasanya tidak mendukung (misal: badai), dan berjuta dalih lainnya. Butuh perjuangan, usaha, strategi, visi, kesabaran, ketelatenan, pantang menyerah. Berat.

Tapi, turun dari ‘ketinggian’ ternyata lebih mengerikan. Tidak semelelahkan naik dan tidak membuat terengah-engah seperti naik, sih. Hanya saja, rasanya, lebih sakit. Apalagi kalau turunnya disertai jatuh terjungkal, terpeleset, tersandung, terluka, dan terkilir.

Naik memang berat, tapi turun lebih mengerikan. Sayangnya, dalam hidup yang siklis, naik dan turun adalah niscaya. Yeah, mungkin sebaiknya berharap saja, agar ketika ‘turun’ nanti baik-baik saja.


P.s.:
catatan ringan nan super singkat bin geje ini ditulis sebagai 'jejak' pendakian Sindoro, 5-6 Februari 2011

Wednesday, February 2, 2011

Baduy: Antara Eksotisme Adat dan Mafia Pariwisata

Menyebut Baduy adalah menyebut salah satu suku adat yang masih tersisa di Indonesia. Menempati perbukitan di ujung barat Pulau Jawa, aturan yang berlaku di antara mereka adalah aturan adat. Cara hidup, pernikahan, mata pencaharian, dan segala aspek kehidupan lainnya. Adat yang tetap dipegang di tengah gempuran modernisasi itulah yang menggelitik perhatian sebagian kalangan. Termasuk saya.

Dari Jakarta, perjalanan menuju Baduy bisa diawali dengan kereta jurusan Rangkasbitung. Perjalanan dua sampai tiga jam dari Stasiun Tanah Abang itu dikenakan tarif dua ribu untuk kereta ekonomi biasa, dan empat ribu untuk kereta ekonomi AC. Dari Stasiun Rangkasbitung, dilanjutkan dengan angkot merah menuju stasiun Aweh, tiga ribu rupiah. Dari Terminal Aweh ini ada angkutan umum berupa elf tujuan Ciboleger, dengan waktu tempuh sekitar satu setengah jam. Tarif normalnya dua belas ribu rupiah per orang. Perlu diingat, itu tarif normal.

Bukan perjalanan mudah

Turun di Terminal Ciboleger, perjalanan sesungguhnya menuju Baduy baru akan dimulai. Jarak dari Ciboleger sampai Desa Cibeo, Baduy Dalam sekitar 12 kilometer. Jarak itu harus ditempuh dengan berjalan kaki, karena kendaraan hanya diizinkan sampai Ciboleger. Ciboleger termasuk dalam kawasan Bojongmenteng, belum memasuki wilayah Baduy. Rumah-rumah di sini sudah berdinding bata, bahkan ada Alfamart segala. Tak jauh dari terminal, ada warung kopi besar dengan empat kamar mandi umum gratis. Sebaiknya, tuntaskan segala urusan MCK di sini, karena ini adalah kamar mandi terakhir yang kami jumpai. Di sini, kami diberitahu bahwa saat ini sedang bulan Kawaluh, bulan sucinya orang Baduy. Karena itu, masuk ke sana tidak bisa sembarangan. Kami pun diminta membeli minyak dan kemenyan sebagai bawaan untuk kepala suku sana. Meski sambil mengangkat alis, tak ayal kami menuruti permintaan tersebut. Daripada nggak bisa masuk, udah jauh-jauh sampe sini, masa langsung pulang lagi, begitu pikir kami ketika itu.


Alfamart di Ciboleger


Tujuan pertama kami adalah kantor lurah Kanekes, desa terluar di Baduy Luar, untuk mengisi buku tamu dan membayar biaya administrasi Rp 10.000,00 per rombongan. Memasuki Desa Kanekes, ada site marker berupa gapura dan papan kayu bertuliskan hak ulayat Baduy. Bahwa kami telah memasuki wilayah Baduy, dan dilarang bla bla bla. Yang menarik, ada logo ‘sinyal kuat Indosat’ di gerbang dan papan tersebut. Pesan sponsor, eh? (Padahal Indosat juga nggak dapet sinyal di Baduy Dalam dan sebagian Baduy Luar, haha -,-)


Site marker kawasan Baduy, papan hak ulayat
Medan jalan menuju Baduy sama sekali bukan trek yang mudah. Agar tidak terlalu malam sampai ke Baduy Dalam, kami berangkat melewati jalur hutan, tidak melewati perkampungan Baduy Luar. Sahut-menyahut suara kodok dan alunan desir angin yang mengalir melewati lubang bambu mengiringi langkah kami. Tanjakan dan turunan terjal, bebatuan licin, tanah merah becek, hujan yang angin-anginan, dan beberapa faktor lain (seperti Hanifah yang salah kostum sepatu xp) sedikit-banyak membuat rombongan kami tidak bisa berjalan terlalu cepat. Beberapa kali kami disusul oleh bapak-bapak Baduy yang bertelanjang kaki, berjalan cepat tanpa ragu, tanpa khawatir luka tergores-gores dan terantuk batu. Hebat.

Karena memang berangkat terlalu sore, malam di jalan pun tidak bisa dielakkan. Maka senter menjadi benda yang sangat berharga. Angin dingin berhembus semilir, membuat bulu kuduk meremang. Menengok ke belakang, yang ada hanyalah kegelapan pekat. Derik jangkrik sesekali terdengar, memecah sunyi, menghadirkan aura alam bebas yang mistis.

Bermalam di Baduy Dalam

Menempuh sekitar tiga setengah jam perjalanan, akhirnya kami sampai di Desa Cibeo. Setelah mencuci kaki di sungai, Kang Sarid, pemandu kami, langsung menunjukkan jalan ke rumah penduduk tempat kami akan numpang menginap. Dinding dan lantai rumah itu terbuat dari anyaman bambu. Kalau kami berjalan, akan muncul bunyi kriet… kriet… dari lantai bambu yang terinjak. Tiang-tiang penopangnya dari batang bambu, dan atapnya dari rumbia. Khas sekali. Rumah panggung itu hanya memiliki dua ruangan, ruang depan dan ruang belakang tempat dapur. Tanpa kamar khusus. Kami celingak-celinguk mencari tempat ganti baju. Pak Sarminah, tuan rumah kami, akhirnya menggantungkan kain berbahan seperti goni di salah satu sudut ruangan, sebagai tirai untuk tempat ganti baju. Saya jadi teringat kamar pas di toko-toko busana. Ini versi tradisionalnya kali ya --‘

Saturday, January 29, 2011

Gopek


Gopek. Rp 500,00. Lima ratus perak. Apa artinya sekeping logam itu?

Di Jogja, lima ratus rupiah berarti sepotong tempe, atau ditambah lima ratus lagi bisa dapet es teh. Di Jakarta, sekeping gopek itu bisa berarti keributan antara sopir angkot dan penumpangnya, dan sisa perjalanan yang menegangkan karena sang sopir ugal-ugalan sambil ngedumel panjang-lebar.

Tokoh-tokoh
Penumpang, selanjutnya disebut P. Seorang ibu-ibu berusia sekitar 40 tahun, dengan seragam coklat lumpur khas pegawai pemerintahan. Badge di bajunya bertuliskan kejaksaan.
Sopir angkot, selanjutnya disebut S. Abang-abang berusia sekitar 30 tahun, dengan seragam khas sopir angkot Jakarta: kaos belel dan handuk kecil yang disampirkan di pundak.

P mengetuk kap mobil. S tidak mendengar, terus membawa angkotnya lari. P mengetuk lebih keras, tak sabar. “Woi, bang, kiri bang!” Mobil berdecit keras, miring ke kiri.
P turun, menghampiri jendela penumpang di samping sopir. Mengulurkan selembar lima ribu rupiah. S menyerahkan selembar dua ribuan sebagai kembalian. P membelalak.
“Kurang bang!” sentak P.
“Ibu dari Halim kan? Tiga ribu Bu,” sahut S masih berusaha menekan emosi.
“Anda jangan tidak jujur ya! Mana ada dari Halim sampai sini tiga ribu?! Kurang gopek lagi!”
Penumpang lain mulai celingak-celinguk gelisah. S yang melihat gelagat tidak baik cepat-cepat mengorek-ngorek kaleng uang recehnya, menyerahkan sekeping gopek-an setengah hati.
“Dasar, baru jadi sopir angkot aja udah nggak jujur!” desis P sambil berjalan pergi.
“Dasar ibu-ibu bawel! Mentang-mentang PNS! Emang dikira kejaksaan jujur?!” cerocos S sambil mulai menyentak mobilnya. “Pantes aje die kagak mau naik 26. Kalo 26, dari Halim empat ribu tuh. Hah! Untung 19 masih baik! Untung gue masih baik!”
Dan kami, para penumpang yang lain ini hanya bisa mengelus dada dan memekik kecil ketika angkot yang kami tumpangi semakin ugal-ugalan, seiring dengan mood S yang makin bersemangat menggerutu dan merutuk.

“…Hah, pemerintah juga sama aje. Enak bener gaji udah puluhan juta mau dinaikin lagi. Gimana nasib gue yang harus kejer setoran ini? Tarif naik, penumpang marah-marah. Tarif nggak naik, gue yang rugi. Apes… apes…”


Wednesday, September 8, 2010

[Gombong-Kebumen] Mozaik 2: Benteng yang Kehilangan Nuansanya

Benteng Van Der Wijck adalah benteng pertahanan Belanda yang dibangun pada abad ke 19. Nama benteng ini diambil dari Van Der Wijck, yang kemudian nama komanda pada saat itu. Nama benteng ini terpampang pada pintu sebelah kanan. Benteng ini kadang juga dihubungkan dengan nama Frans David Cochius, seorang jenderal yang bertugas di daerah barat Bagelen, sehingga benteng ini sering juga disebut Benteng Cochius.

Aku membaca baris-baris itu dengan tak sabar. Uraian singkat dari Wikipedia itu sama sekali tak menjelaskan apa-apa, apalagi menjawab rasa penasaran. Tenanglah. Sebentar lagi aku akan melihatnya sendiri. Sebentar lagi...

++++++++++++++++++++++++++++++

Berjalan kaki sekitar satu kilometer dari tempat turun bus, jalan utama jalur selatan Yogya Purwokerto atau Yogya-Cilacap, kami sampai di gapura ’Selamat Datang di Taman Wisata Benteng Van Der Wijck’. Taman wisata?

Tampak depan

[Gombong-Kebumen] Mozaik 1: Perjalanan

Jumat sore
“Kebumen lumayan jauh. Sekitar 3-4 jam perjalanan. Besok ketemu di Bunderan Filsafat jam 8 ya.”

Sabtu, 07.33
”Hah! Astagfirullah! Udah jam segini!” -baru bangun-
Tuiit tuiit *bunyi SMS masuk*
”Bil, aku kesiangan. Ketemu jam 8.45 aja ya.”

Sabtu, 09.05
Bunderan Filsafat. Kosong. Tak terlihat batang hidung dua orang itu.
Tuuut tuuut
”Yu, di mana?”
”Di jalan, Bil! Bentar! Bentar! Aku kesiangan!”
Tuiit tuiit *bunyi SMS masuk*
”Aku otw.”

Sabtu, 09.15
”Motorku taro mana nih?”
“Taro FIB aja. Atau taro Maskam.”
“Aman po? Taro kos Andri aja deh.”
“Ke sananya gimana?”
“Udah, cenglu aja! Cenglu!”

Sabtu, 09.40
”Eh, ayo cepetan! Itu jalur 15!”
“Naik naik naik!”

Maka, begitulah. Perjalanan ke Gombong hari itu diawali dengan kesiangan. 3 dari 3 avonturir itu kesiangan. Rencana jam 8, hampir jam 10 baru berangkat. Indonesia, Indonesia.

++++++++++++++++++++++++++++++

Sabtu, 13.35
Bus melaju, melewati gapura bertuliskan ’Gombong’.
”Yu, siap-siap. Bangunin Mbadea. Udah mau nyampe.”
“Mbadea, bangun, udah mau nyampe.”
“Hmmmmhhh….” -tetep tidur-

5 menit kemudian
“Gombong Gombong! Yang turun benteng benteng!” Suara kenek itu menghentak.
”Ayo Yu, Mbadea, turun.”
Aku meloncat, disusul Ayu. Tidak disusul Mbadea. Bus berjalan lagi.
“Hah! Yu! Mbadea mana?”
”Wah, katanya tadi aku disuruh duluan.”
”Mbadea ketinggalan di bus!”
”Hah! Oh iya! Pak, Pak, berhenti Pak! Ada yang belom turun!”
Kenek bus menatap kami tanpa ekspresi. Bus tetap bergerak menjauh.
”Mbadea kebawa bus! Hahahahahahahaha.”
“Hahahahahahahahahahahaha.”

Dan kami sukses terpingkal-pingkal sampai terbungkuk-bungkuk sakit perut. Jahat bener ya xp.

++++++++++++++++++++++++++++++

Sabtu, 17.00
”Tanyain Mbak, ongkos dari benteng sampe pertigaan Wonoyoso berapa.”
”Dua ribu katanya.”

Sabtu, menjelang Maghrib
Kenek mikrobus itu mengangsurkan selembar seribu rupiah sebagai ganti uang sepuluh ribu yang kami berikan. Kami melongo. Tiga ribu seorang? Katanya Ais bukannya dua ribu?

Minggu pagi
”Kurang dua ribu Mbak,” kata kenek itu melihat selembar sepuluh ribu yang aku sodorkan.
”Ah, kemaren saya naik ini juga bayarnya tiga ribu Pak seorang.”
”Ya itu kan kemaren. Hari ini empat ribu.”

Et dah. Untuk jarak yang sama, beda hari beda tarif ya??!

++++++++++++++++++++++++++++++

Minggu, 17. 03, di atas bus jalur 15
”Mbak, turun mana?”
”Kampus UGM Pak.”
”Cuma sampe Mirota ya Mbak.”
”Hah? Ga lewat lembah Pak? Kehutanan?”
”Kita mesti ngambil makanan buat buka puasa bersama anak TK nih, Mbak. Nggak keburu nanti. Nuwun sewu nggih.”

Bah! Buka puasa bersama anak TK itu membuatku terancam ketinggalan kereta pulang! Belum mandi, belum packing, belum beres-beres, belum beli pesenan orang rumah, sementara kereta berangkat setengah tujuh nanti. Hwaaaaa~

”Dodol bener dah kalo nggak jadi pulang kampung gara-gara kelamaan di Kebumen. Hahahaha...”

++++++++++++++++++++++++++++++

Next:
[Gombong-Kebumen] Mozaik 2: Benteng yang Kehilangan Nuansanya

Thursday, August 12, 2010

Romantika Nyasar

Katanya, orang-orang bergolongan darah B adalah orang-orang yang paling gampang nyasar. Entah ilmiah atau tidak, valid atau tidak, kenyataannya, hal itu bisa dibilang tepat bagi saya. Rasanya bisa dihitung jari, berapa kali saya 'berhasil' pergi ke suatu tempat baru tanpa insiden nyasar. Bahkan, jangankan pergi ke tempat baru, pergi ke tempat yang baru seminggu sebelumnya saya datangi pun saya bisa nyasar. Nyasar seolah tak pernah lekang dari segala bentuk perjalanan saya.

Nyasar di Jakarta? Jangan ditanya. Beribu kali mungkin. Maka, jangan tanya di pelosok mana saja saya pernah nyasar. Jangan tanya pula bus dan angkot mana saja yang pernah saya naiki dalam episode-episode nyasar itu. Jangan tanya pula berapa kilometer saya pernah berjalan kaki menyusuri jalanan Jakarta yang panas nan penuh polusi gara-gara nyasar.

Merantau dari Jakarta, petualangan nyasar saya berlanjut di Kota Pelajar. Cerita-cerita bodoh nan konyol pun berkali-kali terjadi. Setelah dipikir-pikir,pangkalnya sebagian besar adalah ke'soktahu'an saya sendiri sepertinya, haha. Pernah suatu kali saya dan beberapa teman ingin menghadiri sebuah acara. Di pamfletnya tertulis, 'di samping Universitas Mercu Buana'. Oh, Universitas Mercu Buana kan di Gamping, begitu pikir saya. Maka dengan pedenya, kami menaiki bus Jalur 15.Satu setengah jam kemudian, sampailah kami di depan Universitas Mercu Buana Gamping. Eng... ing... eng... Tempat yang dimaksud dalam pamflet tidak ada disana. Kami pun tercekat ketika menyadari bahwa Universitas Mercu Buana yang dimaksud adalah kampus 2 yang berada di Gejayan, sekitar lima belas menit perjalanan dari tempat awal kami menyetop bus tadi.

Nyasar pun seolah menjadi adegan yang 'wajib' ada dalam cerita-cerita bolang saya. Di ketinggian Dieng Plateu, nyasar. Dari situs ke situs di Trowulan, hampir nyasar. Melintasi lautan kabut Bromo, nyasar dan nyaris kehilangan arah. Dalam perjalanan ke pantai selatan Banyuwangi, nyasar.Menyusuri jalanan Bali dari Denpasar ke Sanur, nyasar. Ke Candi Sukuh, nyasar. Ah, kapan sih saya jalan-jalan dan nggak nyasar? -_-

Betapapun, saya menikmati segala ke-nyasar-an itu. Bagi saya, nyasar tidak sekedar membuang-buang waktu sia-sia. Saya belajar banyak hal dari sana. Nyasar membuat saya mengetahui jalan-jalan alternatif yang jarang sekali dilirik orang. Nyasar membuat saya hafal rute-rute kendaraan umum, harus naik apa kalau mau ke mana. Saat nyasar, saya menemukan banyak sekali hal baru yang mungkin sebelumnya luput dari perhatian.

Bagi saya, nyasar adalah bagian dari romantika kehidupan. Nyasar membuat saya memahami bahwa hidup memang tidak selamanya linear. Seringkali kita perlu tersasar terlebih dahulu sebelum menemukan jalan yang 'benar'. Bahkan terkadang, justru kita bisa menemukan jalan yang 'lebih baik' saat tersasar itu. Nyasar memaksa dan menyeret saya keluar dari zona nyaman saya, membuat saya berpikir out of the box dalam mencari jalan keluar. Nyasar membuat saya memaknai hidup sebagai sebuah proses pencarian, yang tak akan berhenti hanya karena tersasar di tengah jalan.

Ketika nyasar, mungkin rasanya memang menyebalkan. Kesal, lelah, peluh, panik, bimbang, resah, semuanya. Namun setelahnya, yang tersisa adalah romantika dan kenangan manis, bukan?

Hidup juga, seperti itu, kan?


Rumah, 12 Agustus 2010

Tuesday, August 3, 2010

Terima Kasih, Merapi

Terima kasih untuk Merapi,
yang mengajariku tentang kesabaran

Terima kasih untuk Merapi,
yang mengajariku tentang meniti perlahan

Terima kasih untuk Merapi,
yang mengajariku tentang menekan ego

Terima kasih untuk Merapi,
yang mengajariku makna bekerja di balik layar
yang menjawab tanya dalam benakku bertahun silam
mengapa tut wuri handayani yang menjadi slogan Departemen Pendidikan

Terima kasih, Merapi
untuk tajam bebatuannya, untuk riuh-rendah anginnya, untuk butiran pasir dan debunya, untuk sengatan mataharinya yang membakar dalam senyap, untuk hembusan uap belerangnya, untuk kawahnya, untuk puncaknya

dan terutama, untuk Tuhan yang menciptakannya dan mengizinkanku menjejakkan kaki di sana

Untuk segala pelajaran dan keping mozaik yang terserak di sepanjang perjalanan naik dan turunnya, sekali lagi, terima kasih...


Merapi, 1-2 Agustus 2010
ditulis di Yogyakarta, 3 Agustus 2010

Sunday, July 25, 2010

[Perjalanan Penuh Nekat] Baron-Kukup, Tempat Gunung dan Laut Bertemu

Oke, perjalanan ini memang perjalanan nekat. Didasari oleh kenekatan, penuh hal-hal nekat, dan diakhiri dengan kenekatan pula.

Awalnya adalah tanpa rencana. Hanya sekedar ingin ‘melarikan diri’ sejenak. Berbekal secuil informasi dari internet, Senin itu, selepas kuliah bahasa Inggris, saya berdua dengan seorang teman sejurusan, nekat langsung jalan saja.

Kami memang ‘anak bus’. Maka perjalanan hari itu juga kami tempuh dengan bus. Bus jalur 4 UGM-Ring Road Selatan Rp 2.500,00, lanjut bus Jogja-Wonosari sampai terminal Wonosari Rp 6.000,00. Keluar dari terminal, di pinggir jalan ada angkudes (angkutan desa) bertuliskan Wonosari-Baron Rp 7.500,00. Begitulah rute angkutan umum kami hari itu menuju Pantai Baron, satu pantai di daerah Gunung Kidul yang dijangkau kendaraan umum.

Perjalanan tiga jam lebih itu bukan perjalanan yang mudah. Melintasi Gunung Kidul berarti melewati jalan yang berkelok-kelok naik-turun. Bagi yang tidak terbiasa dan memiliki kecenderungan mabuk darat, bisa pusing dan mual. Tapi sungguh, perjalanan panjang itu benar-benar tidak sia-sia.

Menikmati Perjalanan

Saya pernah beberapa kali mengajak beberapa teman untuk berjalan-jalan ke suatu tempat, dan ditanggapi dengan skeptis seperti ini:
“Ah, emang nanti di sana mau ngapain?”
“Males ah, ntar udah capek-capek sampe sana cuma foto-foto doang.”

Pernah juga suatu kali saya dan beberapa orang teman melakukan perjalanan panjang yang cukup melelahkan ke suatu tempat. Sampai di sana, salah seorang dari mereka hanya berkomentar, “Cuma begini doang? Ah sia-sia amat perjalanan susah-susah cuma kayak gini aja.”

Oh boi, saya langsung berpikir, sepertinya saya mengajak orang yang salah.

Bagi saya, jalan-jalan bukan hanya sekedar sampai ke tempat tujuan, melakukan suatu kegiatan di sana, lalu pulang. Jalan-jalan bagi saya adalah keseluruhan cerita, mulai dari perjalanan berangkat, di tempat tujuan, dan perjalanan pulang. Bahkan terkadang, saat saya begitu menikmati suatu perjalanan, destinasi tak lagi menjadi soal.

Tentang Perjalanan, dan Pergerakan

Orang berilmu dan beradab tidak akan diam di kampung halaman
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan mendapatkan pengganti kerabat dan kawan
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang

Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tak tinggalkan busur tak akan kena sasaran

Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang

Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya kayu biasa saat masih di dalam hutan

-Imam Syafii-

Inspirasi

Saya menikmati perjalanan, seperti saya menikmati menulis dan membaca.

Terima kasih untuk Matatita, Andrei Budiman, Andrea Hirata, dan 24 Juli 2010 yang berharga, yang telah mencambuk saya untuk mengejawantahkan dan mengompilasi kecintaan saya pada perjalanan, menulis, dan membaca.

Maka, jadilah blog ini. Doakan saya agar tetap istiqamah dalam meng-update, haha.